Saya mau cerita aja. Blog kalau di diamkan saja rasanya tidak enak. Ada yang hambar terasa. Jadi lebih baik di isi dengan catatan saja. Atau mungkin menceritakan apa yang hendak dibagikan. Jadi gini, ada cerita dari seorang teman. Dia nampaknya punya musuh. Di lingkungan kerjanya. Tepatnya teman seperjuangan. Tapi sekarang sudah seperti sama sama tidak menganggap satu sama lain. Saya dengar ceritanya sih kayaknya pengalaman akut sih. Gak bisa ditolong, mungkin kasih sayang Allah saja lagi yang bisa menolong. Usut punya usut dari cerita teman itu. Sebenarnya yang salah adalah si temanku ini. Ada kesalahan fatal yang melanggar prinsip hidup si temannya. Wajar lah, berkelahi jadinya. Tapi kelahi zaman sekarang yang paling ngeri adalah sudah tidak dianggap lagi sebagai sesama anak bangsa. Jika dihadapkan dalam sebuah kondisi pun, ya jatuhnya sebatas profesionalitas saja. Tidak lebih. Jika lebih akan berbahaya bagi kedua orangtua. Mungkin adu intonasi suara. Saya lihat kondisi hubungan itu ...
Mungkin enak kali ya jalan jalan ke luar negeri gitu?. Bisa jadi bikin hati enak. Tapi ada yang tanya pasti nih. Kan perlu duit? Kalau gak punya duit gemana? Ya pastinya kalo lagi ngebet banget ya mustinya nabung. Jawaban klasik sih itu. Ya gemana lagi ya kan. Kalau duit banyak, ya bisa aja langsung jalan-jalan. Tapi saya yakin, ada momentumnya nanti bosan juga. Pasti itu. Manusia fitrahnya ya bosan. Kalo destinasi wisatanya gak sesuai ekspektasi ya jatuhnya benci. Bakal gak mau ke tempat itu lagi. Tapi ya dipikir-pikir, mending ada duit. Daripada enggak ada. Kalau ada duit, hari itu juga apa yang diinginkan bisa jadi selangkah lebih maju, pasti bisa wisata, minimal yang dekat dekat aja dulu. Berarti poinnya apa nih?, ya poinnya adalah duit. Lanjut ke pertanyaan kedua, duit itu bagaimana carinya?. Dikesempatan kali ini saya mau kenalkan prinsip cari duitnya aja. Urusan mau cari di bidang apa itu terserah. Prinsip itu dinamakan cari duit itu di hati sedang nyaman. Kenapa kal...