Dalam dinamika organisasi, perbedaan pendapat adalah hal yang niscaya. Sama halnya perbandingannya dengan sebuah ruah tangga, ada suami dan sitri, pasti mereka pernah konflik Namun, yang membedakan organisasi yang sehat dengan yang toksik bukanlah ketiadaan konflik, melainkan bagaimana cara anggota di dalamnya merespons gesekan tersebut. Seringkali, konflik membesar bukan karena substansi masalahnya, melainkan karena ego yang terlibat jauh lebih besar daripada solusi yang dicari. Kita sering mengartikannya sebagai manusia yang suka emosian, suka marah, tidak pakai logika jika sedang dalam suasana konflik. Poin krusial dalam berorganisasi adalah kemampuan untuk tidak membawa masalah kerja ke ranah perasaan (don’t take it personally). Kata orang zaman sekarang, jangan terlalu baperan deh. Berabe entar. Ketika sebuah kritik dilemparkan, respons alami manusia adalah membangun benteng pertahanan atau melakukan pembelaan diri. Istilah dalam bahasa Arabnya adalah Ghorizatun Baqo’ ...
Pernah tidak kalian dalam perjalanan ke kantor, menatap kaca jendela buram, melihat istri pakai daster yang terbuka dan seksi, lalu tiba-tiba sebuah pemikiran brilian melintas begitu saja? Ide-ide ini sering kali datang seperti "sekelebat cahaya"—terang,seperti bulan Ramadhan kemarin menginspirasi, namun sangat rapuh yang namanya ide ini. Masalahnya, sifat dasar ide adalah efemerallitas; ia ada di sana satu detik, dan bisa lenyap selamanya di detik berikutnya jika tidak segera ditangkap. Mirip maling sebenarnya ide ini. Ide yang tidak dicatat adalah potensi yang terbuang, rugi, seperti sampah. Otak manusia sangat hebat sebenarnya dalam memproses informasi apas aja, namun tidak efisien dalam menyimpannya dalam jangka panjang tanpa bantuan eksternal. Saya ingat tulisan penulis terkenal, David Allen, bukan saudara saya, dalam bukunya yang fenomenal Getting Things Done, menyatakan: "Pikiran Anda adalah untuk memiliki ide, bukan untuk menyimpannya." Ketika ki...