Ketidaknyamanan di dalam sebuah perusahaan bisa dipicu oleh banyak hal. Namun, dari apa yang sering saya saksikan, akar masalah utamanya adalah ketidakcocokan cara kerja dengan atasan. Contohnya ada pada teman saya sendiri. Bosnya tidak menyukai gaya kerjanya karena teman saya ini kerap bertindak di luar batas (overlap), terburu-buru mengambil alih, dan menyampaikan ide dengan cara yang kurang tepat. Sementara itu, saya pribadi merasa ritme kerja saya lebih seirama dengan sang bos. Dalam situasi seperti ini, sikap yang saya ambil adalah menjadi pengamat yang bijak. Saya memilih untuk merapat kepada pihak yang memiliki wewenang, karena orang yang berkuasa dan berwenanglah yang memegang akses penuh terhadap sumber daya dan kesempatan. Menurut saya, strategi ini adalah kunci untuk "menang". Lebih baik bertahan sedikit lebih lama dalam situasi yang tidak ideal—karena hal itu mencerminkan kapasitas adaptasi yang tinggi—daripada terus-menerus melawan arus dan justru mer...
Saya mau cerita aja. Blog kalau di diamkan saja rasanya tidak enak. Ada yang hambar terasa. Jadi lebih baik di isi dengan catatan saja. Atau mungkin menceritakan apa yang hendak dibagikan. Jadi gini, ada cerita dari seorang teman. Dia nampaknya punya musuh. Di lingkungan kerjanya. Tepatnya teman seperjuangan. Tapi sekarang sudah seperti sama sama tidak menganggap satu sama lain. Saya dengar ceritanya sih kayaknya pengalaman akut sih. Gak bisa ditolong, mungkin kasih sayang Allah saja lagi yang bisa menolong. Usut punya usut dari cerita teman itu. Sebenarnya yang salah adalah si temanku ini. Ada kesalahan fatal yang melanggar prinsip hidup si temannya. Wajar lah, berkelahi jadinya. Tapi kelahi zaman sekarang yang paling ngeri adalah sudah tidak dianggap lagi sebagai sesama anak bangsa. Jika dihadapkan dalam sebuah kondisi pun, ya jatuhnya sebatas profesionalitas saja. Tidak lebih. Jika lebih akan berbahaya bagi kedua orangtua. Mungkin adu intonasi suara. Saya lihat kondisi hubungan itu ...