Pernah tidak kalian dalam perjalanan ke kantor, menatap kaca jendela buram, melihat istri pakai daster yang terbuka dan seksi, lalu tiba-tiba sebuah pemikiran brilian melintas begitu saja? Ide-ide ini sering kali datang seperti "sekelebat cahaya"—terang,seperti bulan Ramadhan kemarin menginspirasi, namun sangat rapuh yang namanya ide ini. Masalahnya, sifat dasar ide adalah efemerallitas; ia ada di sana satu detik, dan bisa lenyap selamanya di detik berikutnya jika tidak segera ditangkap. Mirip maling sebenarnya ide ini.
Ide yang tidak dicatat adalah potensi yang terbuang, rugi, seperti sampah. Otak manusia sangat hebat sebenarnya dalam memproses informasi apas aja, namun tidak efisien dalam menyimpannya dalam jangka panjang tanpa bantuan eksternal. Saya ingat tulisan penulis terkenal, David Allen, bukan saudara saya, dalam bukunya yang fenomenal Getting Things Done, menyatakan: "Pikiran Anda adalah untuk memiliki ide, bukan untuk menyimpannya."
Ketika kita tidak mencatat ide sekelebat yang muncul saat berangkat kerja, kita membiarkan inspirasi tersebut menguap, hilang, rugi pastinya Mencatat adalah langkah pertama dari manifestasi; ia mengubah sesuatu yang abstrak menjadi bentuk fisik yang bisa dieksekusi.
Menangkap ide hanyalah permulaan. Tantangan sebenarnya adalah "kepatuhan" atau komitmen untuk menjalankannya. Jika kalian memiliki ide untuk mulai menulis, maka tugas kalian adalah terus melakukannya tanpa banyak kompromi. Tanpa alasan. Tanpa banyak mengeluh. Tanpa kecuali apapun. Dalam psikologi perilaku, ini dikenal sebagai pembentukan kebiasaan.
Selanjutnya saya mau kasih penelitian oleh Phillippa Lally dari University College London, dia juga bukan saudara saya, dia mengungkapkan bahwa rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 66 hari agar sebuah perilaku baru menjadi otomatis. Saya mengenalnya lebih enaknya adalah dengan sebutan habits. Kepatuhan pada ide positif—seperti menulis setiap hari—mungkin terasa berat di awal. Saya pernah mengalaminya. Gejalanya malas-malasan. Namun, jika Anda terus "melanjutkan saja", jalur saraf di otak akan semakin kuat, dan resistensi mental Anda akan berkurang.
Sebuah ide positif yang dijalankan secara konsisten tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi memiliki daya tular yang luar biasa.Mirip dengan penyakit, sama-sama bisa menular. Inilah fase di mana kebiasaan individu berevolusi menjadi sebuah budaya.
Ide (Insight): Percikan awal yang ditangkap dan dicatat.
Kebiasaan (Habit): Ide yang dipraktikkan berulang kali melalui disiplin diri.
Budaya (Culture): Kumpulan kebiasaan yang akhirnya mempengaruhi lingkungan sekitar.
Ringkasnya saya buat seperti itu buat memudahkan kalian.
Dalam konteks organisasi atau komunitas, ketika seseorang konsisten menjalankan budaya literasi (menulis), orang-orang di sekitarnya akan mulai terpengaruh. Budaya adalah hasil akhir dari "kepatuhan kolektif" terhadap nilai-nilai positif. Setidaknya saya yakin akan hal itu dan berusaha menyampaikan, urusan diterima orang lain adalah urusan lain. Tidak bisa saya jangkau soal itu.
Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah cara kita merapikan pikiran dan meninggalkan jejak. Saya yakin kalian pasti suka namanya dikenang walau kalian sudah di alam barzah. Artikel di Harvard Business Review sering menekankan bahwa pemimpin yang menulis memiliki kemampuan refleksi yang lebih baik.
Ketika menulis menjadi kebiasaan, ia menjadi alat untuk menyebarkan budaya positif. Tulisan kalian bisa menjadi "ide sekelebat" bagi orang lain, yang kemudian mereka catat, mereka jalankan, dan mereka jadikan budaya baru.
Penulis: Rizki Wibisono
Komentar
Posting Komentar