Langsung ke konten utama

Potongan Kisah di Tiap Momen


Saya suka melihat foto yang saya ambil. Foto segelas kopi gula aren ini saya ambil waktu di cafe. Cafenya di area kantor. Yang punya bisnis adalah cucu perusahaan dimana saya bekerja. Jadi asyik saja gitu. Ingin ngopi yang seperti orang ya tinggal ke bawah saja.

Membayar pakai uang digital di aplikasi. Aplikasinya milik perusahaan juga. Perusahaan saya ngasih uang makan per bulan di aplikasi itu. Jadi jika mau makan, tinggal buka aplikasi dan bayar, sama seperti QRIS. Metode bayar digital dari Indonesia. Jika saldo Rp 50.000, harga kopi Rp 20.000, saldo tersisa Rp 30.000. sangat sederhana.

Sesi kepenulisan ini saya menikmati, posisinya di mall, sedang menunggu waktu tonton film. Film yang saya sukai rilisnya dan sequelnya. Mission Impossible tahun 2025. Bisa saja bagi saya nonton di web yang tidak berbayar alias gratis. Tapi kelamaan. Jadi bayar nonton di bioskop tidak masalah. Toh uang ada. Uang dari nabung maksudnya. Uang yang lebihan dan bisa dianggap sebagai uang letih atas bekerja di kantor. Self reward kata orang masa kini.

Ngomong soal uang, saya ingin melipatgandakan dengan usaha cerdas. Harus punya modal mindset uang wajib bekerja bagi kita. Entah dengan investasi atau memutar uang itu pada sektor yang produktif (buka usaha). Jika tidak bisa berusaha mendingan di investasikan pada emiten saham yang punya penghasilan bertumbuh. Sabar kuncinya, gulung digulung saja itu aset, mungkin 1 tahun atau 5 tahun, pasti nanti ada kelipatan uang yang diperoleh. Apalagi pakai cara Allah, yakni sedekah. Kita pasti tidak tahu yang didapatkan berapa, sebab tidak melulu uang yang didapatkan, namun keluarga yang bahagia atau kesehatan yang sangat lama sampai tua. Kuncinya konsisten/Istiqomah dalam bersedekah atau membantu orang lain.

Apakah saya merasakan manfaat dari bersedekah selama sebulan atau bahkan kurang? Jawabannya iya. Yang saya rasakan dampaknya, saya semakin dekat dengan Allah, kesehatan menjadi lebih baik, keluarga sakinah mawadah warohmah, rejeki datang dari arah yang tidak diduga. Segala kebingungan yang datang dari dunia hendaknya di tiadakan, mendingan dikembalikan minta solusi pada Allah. Insya Allah, dalam waktu dekat akan diberikan solusi, dan sungguh, hati saya tenang. Barang siapa yang ikuti ini, hatimu juga akan tenang. Saya tidak bohong.

Ketika saya menulis pada sesi sedang menunggu urutan menonton di bioskop. Di hape tepatnya nulis. Saya duduk di luar, dekat food court, minum Thai tea, nulisnya tenang sekali. Hingga saya tidak menyangka sudah mengumpulkan banyak paragraf cerita. Bahkan jika dipikir-pikir, banyak tulisan paragraf menjadi cerita, dipromosikan pada media sosial dan dikasih harga, saya bisa untung. Namun branding nama sebagai penulis memoar perlu waktu lama. Konsistensi adalah kuncinya. Bahkan mempromosikan nama sebagai penulis beserta hasil karya yang ditawarkan wajib dengan hasil video promosi yang amat menarik. Buat video bisa pakai jasa orang, jika kita tidak bisa edit dan tidak punya ide kreatif.

Saya memang ada kenalan yang biasa buat video kreatif untuk konten kreator. Bahkan sering mempromosikan karyanya. Hasil karya yang dijual berupa digital atau barang keras. Semua terpromosikan dengan baik. Hasilnya juga baik.

Tidak hanya membuat video yang membuat kita bahagia, menulis juga begitu. Jika bagus maka banyak yang suka. Namun satu perlu dicatat, konsistensi membawa ciri khas. Itu jangan sampai ditinggalkan. 

Konsistensi memang menjadi ruh sebuah karya. Wajib ada alasan kuat memulai sesuatu. Jika tidak memiliki, rasanya tidak ada faktor pendorong yang hebat. Contohnya, satu kasus, seseorang perlu uang banyak untuk biaya pendidikan anaknya dan agar dapur keluarganya memancarkan aroma tiap hari, maka ia harus bekerja cerdas. Modal dia adalah ijazah, keterampilan, pengalaman kerja, dan koneksi. Bahkan akhir akhir ini ada yang tidak melihat ijazah. Perekrut hanya melihat track record pekerjaan sebelumnya atau hasil karya yang hari itu ingin dilihat perekrut.

Zaman sekarang kerja cerdas juga perlu ilmu tahu suatu momentum. Jika cerdas tapi tidak tepat momentum waktunya, hasilnya juga tidak maksimal. Saya mengibaratkan tahu momentum itu adalah hoki. Sebab orang cerdas kalah dengan orang hoki.

By Rizki Wibisono 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengubah Sistem Cacat

Demokrasi yang sehat tidak lahir dari transaksi, melainkan dari partisipasi yang sadar dan bermartabat. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa biaya pemilu yang tinggi telah mendorong praktik politik transaksional, di mana suara rakyat dipertukarkan dengan janji atau materi, bukan visi dan integritas. Ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan krisis nilai. Untuk mengatasi ini, kita perlu solusi yang menyentuh tiga lapisan: *1. Reformasi Sistem Pemilu* - ๐Ÿ’ฐ _Pembatasan dan transparansi dana kampanye_: Negara perlu memperketat regulasi pembiayaan politik, termasuk pelaporan dana kampanye secara real-time dan audit publik. - ๐Ÿงพ _Subsidi kampanye berbasis kualitas_: Calon yang lolos seleksi berbasis rekam jejak dan visi bisa mendapat dukungan logistik dari negara, bukan dari sponsor pribadi yang berpotensi menuntut balas jasa. *2. Pendidikan Politik Rakyat* - ๐Ÿ“š _Literasi demokrasi sejak dini_: Kurikulum sekolah harus mengajarkan nilai-nilai demokrasi, bukan sekadar prosedurnya. - ๐Ÿ“ฃ...

Thanks and Implementation

This is me talking about other people. All right, let's get started. Some people work in a company, the position is the staff. He strives to be the best among his friends. Whatever that is. For me, it is a good life attitude choice and needs to be appreciated.  On the one hand, when he returns home, he yearns to earn more money. He knows how but collided with his laziness. But slowly he can rise from the negative point of view of being lazy. He can rise to always act and make his life better than before.  He always tries to get closer to Allah. He always improves his attitude toward the world. He always accepts what Allah has ordained for him. He also always acts smart in everything he will do. To me, that is a great attitude.  Sometimes, the salary in a company is big but the risk is big. There is also a salary in a medium company, with a mediocre salary but close to family and low risk of work. It is reasonable. It's an open secret. What we need to stay away from is whe...