Membesarkan anak adalah salah satu tugas paling mulia, sekaligus paling menuntut, yang pernah dihadapi manusia. Di dalam benak setiap orang tua, tertanam impian universal: melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, mandiri, dan sukses. Namun, jalan menuju impian tersebut jarang sekali lurus. Penuh terjal, ada rintangan, tidak usah jauh-jauh, bisa jadi rintangannya adalah orang internal kita sendiri, misal orangtua yang ikut campur tangan dengan cara yang tidak kita setujui. Seringkali, jalan itu berliku, penuh kerikil, dan terkadang buntu. Validasi orang tua adalah fondasi bagi kepercayaan diri anak. Namun, yang sering dilupakan dalam euforia "mendukung anak" adalah realitas bahwa perjuangan ini adalah sebuah maraton, bukan lari cepat—ia melelahkan, penuh rasa kesal, dan sangat bergantung pada metode trial and error.
Mengapa Kesukaan Positif Wajib Didukung
Saat seorang anak menunjukkan minat pada sesuatu—apakah itu melukis, koding, sepak bola, atau sains—dia sedang mencoba mendefinisikan dirinya sendiri. Bagi mereka, minat itu bukanlah sekadar hobi, melainkan jendela untuk memahami dunia dan potensi mereka. Setidaknya itu adalah bahasa anak, bahasa yang mungkin belum kita ngerti. Tapi itulah seninya.
Pada momen inilah, peran orang tua menjadi sangat krusial. Dukungan orang tua bertindak sebagai cermin yang memantulkan citra positif diri anak.
Ketika orang tua berusaha keras untuk mendukung kesukaan positif anak, bahkan ketika kesukaan itu terdengar asing atau kurang populer, mereka sedang memberikan dua hal esensial: rasa aman untuk bereksplorasi dan keyakinan bahwa minat mereka memiliki nilai. Jika anak suka baca, justru wajib didukung. Suka menggambar, dukung juga. Yang tidak boleh kalau dia merokok. Haram hukumnya.
Validasi ini adalah bahan bakar utama bagi motivasi internal anak. Tanpa dukungan, anak akan belajar untuk memendam impian mereka karena takut gagal atau takut tidak diterima. Ingat ya, jangan sampai anak kita trauma tidak melakukan yang ingin dia lakukan. Berabe nanti jatuhnya, kasihan perkembangannha nanti kalah sama anak lain. Rugi.
Saya kutip dari buku aja deh ya, dalam buku fenomenal yang membahas tentang pola pikir, Dr. Carol S. Dweck menekankan pentingnya bagaimana orang tua merespons minat dan usaha anak. Dweck menekankan bahwa dukungan harus difokuskan pada proses, bukan sekadar pada hasil akhir. Ini perlu digarisbawahi. Proses itu adalah cara yang wajib disayangi bukan dijauhi. Makna proses perlu ditanam dalam benak anak agar tidak mudah goyah menggapai sesuatu yang dituju.
"Jika orang tua ingin memberikan hadiah kepada anak-anak mereka, hal terbaik yang bisa mereka lakukan adalah mengajari anak-anak mereka untuk mencintai tantangan, tertarik pada kesalahan, menikmati usaha, dan terus belajar. Dengan begitu, anak-anak mereka tidak perlu menjadi budak dari pujian. Mereka akan memiliki cara seumur hidup untuk membangun dan memperbaiki kepercayaan diri mereka sendiri."
— Carol S. Dweck, Mindset: The New Psychology of Success (Penerbit: Ballantine Books)
Kata-kata Dweck menegaskan bahwa dengan mendukung minat positif anak, kita sedang mengajarkan mereka cara menghadapi dunia dengan mentalitas pemenang—mentalitas yang mencintai proses belajar daripada sekadar pengakuan.
Keyakinan bahwa "jika orang tua berusaha maka akan berhasil" adalah sikap yang patut diacungi jempol. Optimisme adalah kompas bagi orang tua di tengah badai parenting. Sama seperti nahkoda Titanic, kalau kompas tidak ada, nabrak gunung es nanti. Mati semua penumpang. Namun, keberhasilan dalam parenting jarang sekali terjadi secara instan atau melalui satu formula tunggal. Hal ini membawa kita pada aspek paling nyata dari perjuangan ini: trial and error.
Trial and error (uji coba dan kegagalan) bukanlah tanda kelemahan orang tua, melainkan bagian integral dari proses parenting yang sehat. Setiap anak adalah individu unik dengan sidik jari emosional yang berbeda. Apa yang berhasil untuk anak pertama, mungkin tidak berhasil untuk anak kedua. Apa yang berhasil hari ini, mungkin gagal besok. Orang tua terus-menerus menyesuaikan, belajar, dan mencoba pendekatan baru.
Proses ini memerlukan kelapangan hati orang tua untuk menerima kegagalan mereka sendiri. Jika orangtua nangis? Ya tidak apa, intinya jangan beri kesan cengeng. Bersikaplah tegar. Terkadang kita salah memilih kata saat menasihati, salah memilih metode disiplin, atau salah membaca kebutuhan emosional anak. Namun, keberhasilan tidak diukur dari ketiadaan kesalahan, melainkan dari konsistensi untuk bangun kembali dan mencoba lagi.
Perjuangan orang tua untuk terus berusaha di tengah ketidakpastian inilah yang sebenarnya membangun jembatan menuju keberhasilan anak di masa depan.
Di sinilah kita perlu berbicara tentang realitas emosional yang jujur. Mengatakan bahwa perjuangan parenting itu mudah adalah sebuah kebohongan publik. Parenting itu melelahkan—secara fisik maupun mental. Ada momen-momen ketika anak sedang "bandel," tidak mendengar nasihat, atau sengaja menguji batas kesabaran orang tua. Rasa kesal, kecewa, dan keinginan untuk menyerah adalah perasaan yang valid dan manusiawi. Akui saja jika pernah alami momen itu. Tapi tidaklah mengapa.
Kita menyebutnya sebagai "nama sebuah perjuangan." Ini adalah deskripsi yang sangat akurat. Perjuangan ini bukan hanya tentang bagaimana kita mendidik anak, tetapi juga tentang bagaimana kita mengelola diri kita sendiri saat berada di titik nadir kesabaran. Momen ketika anak bandel adalah ujian karakter bagi orang tua. Apakah kita akan merespons dengan amarah yang merusak, atau kita akan mengambil napas, mengelola emosi, dan merespons dengan ketegasan yang penuh kasih?
Ketahanan orang tua di momen-momen sulit ini adalah apa yang disebut Angela Duckworth sebagai grit (kegigihan). Bahasa Banjarnya "cakah alias gigih".
Dalam penelitiannya tentang kesuksesan, Duckworth menemukan bahwa kegigihan adalah kombinasi dari passion (hasrat) jangka panjang dan perseverance (daya tahan) untuk terus melangkah meskipun menghadapi rintangan.
Mendukung kesukaan anak di tengah kelelahan adalah bentuk grit tertinggi orang tua. Ini adalah keberanian untuk tetap memberikan cinta dan dukungan saat kita sendiri merasa kosong.
Perjuangan memajukan anak melalui dukungan minat positif, penerimaan terhadap proses trial and error, dan ketahanan di tengah kelelahan emosional adalah sebuah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak terlihat dalam hitungan hari atau bulan. Bisa jadi 2 tahun atau 10 tahun ke depan. Tergantung anak menerimanya bagaimana, cepat atau lambat. Namun, jika dilakukan terus-menerus, ia akan membuahkan hasil positif yang permanen.
Tunggu saja dulu—mungkin 5 atau 10 tahun ke depan. Hasil positif itu akan muncul bukan hanya dalam bentuk kesuksesan karier anak, tetapi dalam bentuk karakter yang kuat: seorang anak yang tahu cara bangun setelah jatuh, seorang anak yang yakin bahwa impian mereka berharga, dan seorang anak yang tahu bahwa mereka dicintai tanpa syarat oleh orang tua yang tidak pernah menyerah berjuang untuk mereka. Dan itulah, pada akhirnya, adalah keberhasilan parenting sejati.
Penulis: Rizki Wibisono
Komentar
Posting Komentar