Langsung ke konten utama

Wajah Yang Menentukan

Mungkin enak kali ya jalan jalan ke luar negeri gitu?. Bisa jadi bikin hati enak. Tapi ada yang tanya pasti nih. Kan perlu duit? Kalau gak punya duit gemana? Ya pastinya kalo lagi ngebet banget ya mustinya nabung. Jawaban klasik sih itu. Ya gemana lagi ya kan.

Kalau duit banyak, ya bisa aja langsung jalan-jalan. Tapi saya yakin, ada momentumnya nanti bosan juga. Pasti itu. Manusia fitrahnya ya bosan. Kalo destinasi wisatanya gak sesuai ekspektasi ya jatuhnya benci. Bakal gak mau ke tempat itu lagi.

Tapi ya dipikir-pikir, mending ada duit. Daripada enggak ada. Kalau ada duit, hari itu juga apa yang diinginkan bisa jadi selangkah lebih maju, pasti bisa wisata, minimal yang dekat dekat aja dulu.

Berarti poinnya apa nih?, ya poinnya adalah duit. Lanjut ke pertanyaan kedua, duit itu bagaimana carinya?. Dikesempatan kali ini saya mau kenalkan prinsip cari duitnya aja. Urusan mau cari di bidang apa itu terserah. Prinsip itu dinamakan cari duit itu di hati sedang nyaman. Kenapa kalau gak nyaman?, pastinya raut wajah kita gak enak dipandang sama yang lain. Jatuhnya duit mungkin didapat ya, syukur itu, tapi hati bawaanya gak nyaman, dan ada potensi dighibahin orang lain. Kan bisa jadi ada orang lain yang bilang ke orang lain lagi dengan ujaran "mending beli barang ditempat lain aja deh, jangan ke tempat dagangan orang itu, wajahnya kusam, gak memancarkan kebaikan dan ketentraman hati". Nah jadi berabe kan?. Pasti itu.

Beda hal kalo pedagang pakai hati yang sedang nyaman jika cari duit. Gak dapat duit di hati itu lunt, jika hatinya sedang gembira, its okay, fine. Berarti dia sedang dapat pahala. Orang bakal senang melihat itu wajah pedagang. Boleh jadi calon pembeli gak nemu di hari itu, tapi dia akan rekomendasikan ke calon pembeli lain, atau tetangga dia. Besoknya ada yang beli, malahan lebih banyak. Sebab kebutuhan orang kan beda beda tiap hari. Rejeki lewat perantara manusia itu jelas faktanya. Makanya hati hati sama wajah saat berbisnis. Pelihara hingga terkesan nyaman dipandang.

Penulis: Rizki Wibisono

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potongan Kisah di Tiap Momen

Saya suka melihat foto yang saya ambil. Foto segelas kopi gula aren ini saya ambil waktu di cafe. Cafenya di area kantor. Yang punya bisnis adalah cucu perusahaan dimana saya bekerja. Jadi asyik saja gitu. Ingin ngopi yang seperti orang ya tinggal ke bawah saja. Membayar pakai uang digital di aplikasi. Aplikasinya milik perusahaan juga. Perusahaan saya ngasih uang makan per bulan di aplikasi itu. Jadi jika mau makan, tinggal buka aplikasi dan bayar, sama seperti QRIS. Metode bayar digital dari Indonesia. Jika saldo Rp 50.000, harga kopi Rp 20.000, saldo tersisa Rp 30.000. sangat sederhana. Sesi kepenulisan ini saya menikmati, posisinya di mall, sedang menunggu waktu tonton film. Film yang saya sukai rilisnya dan sequelnya. Mission Impossible tahun 2025. Bisa saja bagi saya nonton di web yang tidak berbayar alias gratis. Tapi kelamaan. Jadi bayar nonton di bioskop tidak masalah. Toh uang ada. Uang dari nabung maksudnya. Uang yang lebihan dan bisa dianggap sebagai uang letih atas bekerja...

Mengubah Sistem Cacat

Demokrasi yang sehat tidak lahir dari transaksi, melainkan dari partisipasi yang sadar dan bermartabat. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa biaya pemilu yang tinggi telah mendorong praktik politik transaksional, di mana suara rakyat dipertukarkan dengan janji atau materi, bukan visi dan integritas. Ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan krisis nilai. Untuk mengatasi ini, kita perlu solusi yang menyentuh tiga lapisan: *1. Reformasi Sistem Pemilu* - ๐Ÿ’ฐ _Pembatasan dan transparansi dana kampanye_: Negara perlu memperketat regulasi pembiayaan politik, termasuk pelaporan dana kampanye secara real-time dan audit publik. - ๐Ÿงพ _Subsidi kampanye berbasis kualitas_: Calon yang lolos seleksi berbasis rekam jejak dan visi bisa mendapat dukungan logistik dari negara, bukan dari sponsor pribadi yang berpotensi menuntut balas jasa. *2. Pendidikan Politik Rakyat* - ๐Ÿ“š _Literasi demokrasi sejak dini_: Kurikulum sekolah harus mengajarkan nilai-nilai demokrasi, bukan sekadar prosedurnya. - ๐Ÿ“ฃ...

Thanks and Implementation

This is me talking about other people. All right, let's get started. Some people work in a company, the position is the staff. He strives to be the best among his friends. Whatever that is. For me, it is a good life attitude choice and needs to be appreciated.  On the one hand, when he returns home, he yearns to earn more money. He knows how but collided with his laziness. But slowly he can rise from the negative point of view of being lazy. He can rise to always act and make his life better than before.  He always tries to get closer to Allah. He always improves his attitude toward the world. He always accepts what Allah has ordained for him. He also always acts smart in everything he will do. To me, that is a great attitude.  Sometimes, the salary in a company is big but the risk is big. There is also a salary in a medium company, with a mediocre salary but close to family and low risk of work. It is reasonable. It's an open secret. What we need to stay away from is whe...