Dalam dinamika organisasi, perbedaan pendapat adalah hal yang niscaya. Sama halnya perbandingannya dengan sebuah ruah tangga, ada suami dan sitri, pasti mereka pernah konflik Namun, yang membedakan organisasi yang sehat dengan yang toksik bukanlah ketiadaan konflik, melainkan bagaimana cara anggota di dalamnya merespons gesekan tersebut. Seringkali, konflik membesar bukan karena substansi masalahnya, melainkan karena ego yang terlibat jauh lebih besar daripada solusi yang dicari. Kita sering mengartikannya sebagai manusia yang suka emosian, suka marah, tidak pakai logika jika sedang dalam suasana konflik.
Poin krusial dalam berorganisasi adalah kemampuan untuk tidak membawa masalah kerja ke ranah perasaan (don’t take it personally). Kata orang zaman sekarang, jangan terlalu baperan deh. Berabe entar. Ketika sebuah kritik dilemparkan, respons alami manusia adalah membangun benteng pertahanan atau melakukan pembelaan diri. Istilah dalam bahasa Arabnya adalah Ghorizatun Baqo’ sedang meningkat, seni mempertahankan dirinya sangat tinggi waktu itu. alias self defense nya sangat tinggi. Namun, sikap profesional menuntut kita untuk tetap objektif.
Menurut Daniel Goleman, pakar kecerdasan emosional, dia bukan saudara saya sih, kata dia salah satu komponen utama EQ adalah self-regulation (regulasi diri). Goleman dalam bukunya Working with Emotional Intelligence menjelaskan bahwa individu yang mampu mengelola emosinya tidak akan membiarkan perasaan negatif mengambil alih logika. Dengan tetap tenang, kita bisa melihat apakah kritik tersebut merupakan peluru untuk menjatuhkan atau cermin untuk memperbaiki diri. So, intinya introspeksi itu diutamakan, jangan ego dulu yang masuk bertarung.
Seringkali konflik lahir karena kedua belah pihak merasa benar dan enggan mengalah. Padahal, introspeksi adalah langkah pertama yang paling elegan. Alih-alih sibuk menyusun kalimat pembelaan, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: "Bagian mana dari tindakan saya yang berkontribusi pada masalah ini?"
"Konflik adalah ujian bagi karakter seseorang. Menang dalam argumen tetapi kehilangan rasa hormat dari rekan kerja adalah kekalahan yang nyata."
Jika setelah introspeksi kita menyadari bahwa posisi kita benar, menyampaikannya pun harus dengan cara yang bijak. Saya kaih istilah ini yaitu komunikasi asertif—menyampaikan kebenaran tanpa menyerang pihak lain—adalah kuncinya. Emosi yang meluap hanya akan menutup telinga lawan bicara. Sebaliknya, penyampaian yang tenang justru memberikan ruang bagi orang lain untuk berpikir. Poin disini akan menciptakan vibes enak, nyaman dan solutif.
Benar bahwa waktu adalah hakim yang paling adil. Dalam psikologi organisasi yang saya pelajari di Universitas Airlangga tahun 2015, dikenal konsep Organizational Citizenship Behavior (OCB), di mana tindakan positif dan kerelaan hati untuk menjaga keharmonisan tim akan membuahkan hasil jangka panjang. Waktu itu dalam pelajaran mata kuliah psikologi industri di strata S2-jurusan Magister Keselamatan Kesehatan Kerja.
Jika kita memilih untuk tetap bijak meskipun disalahpahami, lingkungan akan menilai konsistensi karakter kita. Bersabarlah dulu sambil terus bersikap bijak. Orang yang keras kepala dan egois mungkin "menang" dalam debat singkat, namun mereka kehilangan kepercayaan (trust) di masa depan. Seiring berjalannya waktu, dampak dari sikap masing-masing individu akan terlihat jelas. Mereka yang mampu mengalah untuk kepentingan yang lebih besar biasanya akan tumbuh menjadi pemimpin yang lebih disegani. tunggu saja dulu, mungki 5 atau 10 tahun ke depan, akan mendapatkan hasil positifnya.
Mengelola konflik dengan introspeksi bukan berarti kita lemah atau kalah. Sebaliknya, itu adalah bentuk kekuatan mental yang tertinggi. Dengan menurunkan ego, menjaga emosi, dan mengutamakan profesionalisme, kita tidak hanya menyelamatkan organisasi dari perpecahan, tetapi juga membentuk diri kita menjadi pribadi yang jauh lebih berkualitas. Karena saya yakin, orang baik jika berproses dengan baik, hasilnya juga akan baik beranfaat bagi sesama.
Ingatlah bahwa dalam organisasi, tujuan bersama harus selalu berada di atas ego pribadi. Jika semua orang memulai dengan introspeksi sebelum konfrontasi, maka konflik tidak lagi menjadi beban, melainkan anak tangga menuju pendewasaan tim.
Penulis: Rizki Wibisono
Komentar
Posting Komentar