Contohnya ada pada teman saya sendiri. Bosnya tidak menyukai gaya kerjanya karena teman saya ini kerap bertindak di luar batas (overlap), terburu-buru mengambil alih, dan menyampaikan ide dengan cara yang kurang tepat. Sementara itu, saya pribadi merasa ritme kerja saya lebih seirama dengan sang bos.
Dalam situasi seperti ini, sikap yang saya ambil adalah menjadi pengamat yang bijak. Saya memilih untuk merapat kepada pihak yang memiliki wewenang, karena orang yang berkuasa dan berwenanglah yang memegang akses penuh terhadap sumber daya dan kesempatan. Menurut saya, strategi ini adalah kunci untuk "menang". Lebih baik bertahan sedikit lebih lama dalam situasi yang tidak ideal—karena hal itu mencerminkan kapasitas adaptasi yang tinggi—daripada terus-menerus melawan arus dan justru merusak ekosistem kerja secara keseluruhan.
Semua refleksi dan strategi ini telah saya rangkum secara mendalam di buku saya yang berjudul The Toxic Exit Strategy. Anda bisa membaca selengkapnya melalui tautan berikut: http://lynk.id/wibidigital/zyk0vjx8p9pn/checkout
Komentar
Posting Komentar