Saya mau cerita aja. Blog kalau di diamkan saja rasanya tidak enak. Ada yang hambar terasa. Jadi lebih baik di isi dengan catatan saja. Atau mungkin menceritakan apa yang hendak dibagikan.
Jadi gini, ada cerita dari seorang teman. Dia nampaknya punya musuh. Di lingkungan kerjanya. Tepatnya teman seperjuangan. Tapi sekarang sudah seperti sama sama tidak menganggap satu sama lain. Saya dengar ceritanya sih kayaknya pengalaman akut sih. Gak bisa ditolong, mungkin kasih sayang Allah saja lagi yang bisa menolong.
Usut punya usut dari cerita teman itu. Sebenarnya yang salah adalah si temanku ini. Ada kesalahan fatal yang melanggar prinsip hidup si temannya. Wajar lah, berkelahi jadinya. Tapi kelahi zaman sekarang yang paling ngeri adalah sudah tidak dianggap lagi sebagai sesama anak bangsa. Jika dihadapkan dalam sebuah kondisi pun, ya jatuhnya sebatas profesionalitas saja. Tidak lebih. Jika lebih akan berbahaya bagi kedua orangtua. Mungkin adu intonasi suara.
Saya lihat kondisi hubungan itu ya sebagai penyimak saja. Penonton. Sedikit menganalisa. Tidak mau masuk terlalu jauh. Walau ada potensi dapatkan pahala besar jika berada dalam kondisi mendamaikan anak bangsa yang bertikai. Saya urungkan saja niat baik itu. Lebih baik tidak terlibat. Bikin pusing soalnya.
Kadangkala kita perlu memilih masalah yang perlu diselesaikan, kadangkala tidak menyelesaikan masalah yang ada, sebab risikonya terlalu besar. Maka ada baiknya di biarkan saja. Sebagai penonton saja.
Komentar
Posting Komentar