Langsung ke konten utama

Menceritakan

Saya mau cerita aja. Blog kalau di diamkan saja rasanya tidak enak. Ada yang hambar terasa. Jadi lebih baik di isi dengan catatan saja. Atau mungkin menceritakan apa yang hendak dibagikan.

Jadi gini, ada cerita dari seorang teman. Dia nampaknya punya musuh. Di lingkungan kerjanya. Tepatnya teman seperjuangan. Tapi sekarang sudah seperti sama sama tidak menganggap satu sama lain. Saya dengar ceritanya sih kayaknya pengalaman akut sih. Gak bisa ditolong, mungkin kasih sayang Allah saja lagi yang bisa menolong.

Usut punya usut dari cerita teman itu. Sebenarnya yang salah adalah si temanku ini. Ada kesalahan fatal yang melanggar prinsip hidup si temannya. Wajar lah, berkelahi jadinya. Tapi kelahi zaman sekarang yang paling ngeri adalah sudah tidak dianggap lagi sebagai sesama anak bangsa. Jika dihadapkan dalam sebuah kondisi pun, ya jatuhnya sebatas profesionalitas saja. Tidak lebih. Jika lebih akan berbahaya bagi kedua orangtua. Mungkin adu intonasi suara.

Saya lihat kondisi hubungan itu ya sebagai penyimak saja. Penonton. Sedikit menganalisa. Tidak mau masuk terlalu jauh. Walau ada potensi dapatkan pahala besar jika berada dalam kondisi mendamaikan anak bangsa yang bertikai. Saya urungkan saja niat baik itu. Lebih baik tidak terlibat. Bikin pusing soalnya.

Kadangkala kita perlu memilih masalah yang perlu diselesaikan, kadangkala tidak menyelesaikan masalah yang ada, sebab risikonya terlalu besar. Maka ada baiknya di biarkan saja. Sebagai penonton saja.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potongan Kisah di Tiap Momen

Saya suka melihat foto yang saya ambil. Foto segelas kopi gula aren ini saya ambil waktu di cafe. Cafenya di area kantor. Yang punya bisnis adalah cucu perusahaan dimana saya bekerja. Jadi asyik saja gitu. Ingin ngopi yang seperti orang ya tinggal ke bawah saja. Membayar pakai uang digital di aplikasi. Aplikasinya milik perusahaan juga. Perusahaan saya ngasih uang makan per bulan di aplikasi itu. Jadi jika mau makan, tinggal buka aplikasi dan bayar, sama seperti QRIS. Metode bayar digital dari Indonesia. Jika saldo Rp 50.000, harga kopi Rp 20.000, saldo tersisa Rp 30.000. sangat sederhana. Sesi kepenulisan ini saya menikmati, posisinya di mall, sedang menunggu waktu tonton film. Film yang saya sukai rilisnya dan sequelnya. Mission Impossible tahun 2025. Bisa saja bagi saya nonton di web yang tidak berbayar alias gratis. Tapi kelamaan. Jadi bayar nonton di bioskop tidak masalah. Toh uang ada. Uang dari nabung maksudnya. Uang yang lebihan dan bisa dianggap sebagai uang letih atas bekerja...

Mengubah Sistem Cacat

Demokrasi yang sehat tidak lahir dari transaksi, melainkan dari partisipasi yang sadar dan bermartabat. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa biaya pemilu yang tinggi telah mendorong praktik politik transaksional, di mana suara rakyat dipertukarkan dengan janji atau materi, bukan visi dan integritas. Ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan krisis nilai. Untuk mengatasi ini, kita perlu solusi yang menyentuh tiga lapisan: *1. Reformasi Sistem Pemilu* - ๐Ÿ’ฐ _Pembatasan dan transparansi dana kampanye_: Negara perlu memperketat regulasi pembiayaan politik, termasuk pelaporan dana kampanye secara real-time dan audit publik. - ๐Ÿงพ _Subsidi kampanye berbasis kualitas_: Calon yang lolos seleksi berbasis rekam jejak dan visi bisa mendapat dukungan logistik dari negara, bukan dari sponsor pribadi yang berpotensi menuntut balas jasa. *2. Pendidikan Politik Rakyat* - ๐Ÿ“š _Literasi demokrasi sejak dini_: Kurikulum sekolah harus mengajarkan nilai-nilai demokrasi, bukan sekadar prosedurnya. - ๐Ÿ“ฃ...

Wajah Yang Menentukan

Mungkin enak kali ya jalan jalan ke luar negeri gitu?. Bisa jadi bikin hati enak. Tapi ada yang tanya pasti nih. Kan perlu duit? Kalau gak punya duit gemana? Ya pastinya kalo lagi ngebet banget ya mustinya nabung. Jawaban klasik sih itu. Ya gemana lagi ya kan. Kalau duit banyak, ya bisa aja langsung jalan-jalan. Tapi saya yakin, ada momentumnya nanti bosan juga. Pasti itu. Manusia fitrahnya ya bosan. Kalo destinasi wisatanya gak sesuai ekspektasi ya jatuhnya benci. Bakal gak mau ke tempat itu lagi. Tapi ya dipikir-pikir, mending ada duit. Daripada enggak ada. Kalau ada duit, hari itu juga apa yang diinginkan bisa jadi selangkah lebih maju, pasti bisa wisata, minimal yang dekat dekat aja dulu. Berarti poinnya apa nih?, ya poinnya adalah duit. Lanjut ke pertanyaan kedua, duit itu bagaimana carinya?. Dikesempatan kali ini saya mau kenalkan prinsip cari duitnya aja. Urusan mau cari di bidang apa itu terserah. Prinsip itu dinamakan cari duit itu di hati sedang nyaman. Kenapa kal...