Langsung ke konten utama

Saya Hanya Mau Tunjukkan


Saya dulu berpandangan bahwa perempuan yang cantik itu perlu di amankan, jika dia beragama Islam maka wajib diamankan oleh keluarganya. Masalahnya jika dia berpenampilan menarik dan membuka auratnya (kelihatan rambutnya), maka lelaki berniat jahat pasti mengambil kesempatan lebih yaitu berpikiran ke arah seks, minimal dia melihat secara lama, memandang secara lama. Jika sekarang pola pikir saya ya juga tetap sama. Tapi itukan berkaitan dengan takdir ya, apakah dia di seriusin oleh lelaki yang pemahaman agama nya baik atau tidak. Masalahnya kedua adalah, jumlah lelaki dan perempuan jelas timpang. Perempuan semakin banyak. Menambah pusing laki-laki. Entah masalahnya dia soal memilih atau minder karena hartanya jauh dibandingkan perempuan yang disukai.

Dunia oh dunia. Duli saya lihat perempuan yang saya suka sungguh banyak, sekarang ya sama, bahkan jumlah perempuan yang cantik makin bertambah. Tapi ada juga yang saya pandang dulu cantik, sekarang malah biasa saja. Singkatnya, turun derajat kecantikannya. Itulah yang namanya dimakan oleh waktu dan momentum. Dulu dikira cantik sampai sekarang eh ternyata enggak. Enggak bisa dipertahankan kecantikannya.

Itulah mengapa ada yang bilang, kecantikan perempuan itu sementara saja. Yang abadi adalah Akhlakul Karimah nya yang baik. Jika ditambah wajahnya cantik, Akhlakul Karimah nya juga cantik, itu bonus namanya. Beruntung laki-laki mendapatkan seperti itu.

Kalau ada yang tanya, kamu kenapa sih Wib nulis soal perempuan tapi gambarnya koper di bagasikan?. Tenanglah, itu hanya tipuan semata saja. Saya mau tunjukkan, istilah don't judge the book from the cover masih berlaku. Hehe.

By Rizki Wibisono 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potongan Kisah di Tiap Momen

Saya suka melihat foto yang saya ambil. Foto segelas kopi gula aren ini saya ambil waktu di cafe. Cafenya di area kantor. Yang punya bisnis adalah cucu perusahaan dimana saya bekerja. Jadi asyik saja gitu. Ingin ngopi yang seperti orang ya tinggal ke bawah saja. Membayar pakai uang digital di aplikasi. Aplikasinya milik perusahaan juga. Perusahaan saya ngasih uang makan per bulan di aplikasi itu. Jadi jika mau makan, tinggal buka aplikasi dan bayar, sama seperti QRIS. Metode bayar digital dari Indonesia. Jika saldo Rp 50.000, harga kopi Rp 20.000, saldo tersisa Rp 30.000. sangat sederhana. Sesi kepenulisan ini saya menikmati, posisinya di mall, sedang menunggu waktu tonton film. Film yang saya sukai rilisnya dan sequelnya. Mission Impossible tahun 2025. Bisa saja bagi saya nonton di web yang tidak berbayar alias gratis. Tapi kelamaan. Jadi bayar nonton di bioskop tidak masalah. Toh uang ada. Uang dari nabung maksudnya. Uang yang lebihan dan bisa dianggap sebagai uang letih atas bekerja...

Mengubah Sistem Cacat

Demokrasi yang sehat tidak lahir dari transaksi, melainkan dari partisipasi yang sadar dan bermartabat. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa biaya pemilu yang tinggi telah mendorong praktik politik transaksional, di mana suara rakyat dipertukarkan dengan janji atau materi, bukan visi dan integritas. Ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan krisis nilai. Untuk mengatasi ini, kita perlu solusi yang menyentuh tiga lapisan: *1. Reformasi Sistem Pemilu* - ๐Ÿ’ฐ _Pembatasan dan transparansi dana kampanye_: Negara perlu memperketat regulasi pembiayaan politik, termasuk pelaporan dana kampanye secara real-time dan audit publik. - ๐Ÿงพ _Subsidi kampanye berbasis kualitas_: Calon yang lolos seleksi berbasis rekam jejak dan visi bisa mendapat dukungan logistik dari negara, bukan dari sponsor pribadi yang berpotensi menuntut balas jasa. *2. Pendidikan Politik Rakyat* - ๐Ÿ“š _Literasi demokrasi sejak dini_: Kurikulum sekolah harus mengajarkan nilai-nilai demokrasi, bukan sekadar prosedurnya. - ๐Ÿ“ฃ...

Wajah Yang Menentukan

Mungkin enak kali ya jalan jalan ke luar negeri gitu?. Bisa jadi bikin hati enak. Tapi ada yang tanya pasti nih. Kan perlu duit? Kalau gak punya duit gemana? Ya pastinya kalo lagi ngebet banget ya mustinya nabung. Jawaban klasik sih itu. Ya gemana lagi ya kan. Kalau duit banyak, ya bisa aja langsung jalan-jalan. Tapi saya yakin, ada momentumnya nanti bosan juga. Pasti itu. Manusia fitrahnya ya bosan. Kalo destinasi wisatanya gak sesuai ekspektasi ya jatuhnya benci. Bakal gak mau ke tempat itu lagi. Tapi ya dipikir-pikir, mending ada duit. Daripada enggak ada. Kalau ada duit, hari itu juga apa yang diinginkan bisa jadi selangkah lebih maju, pasti bisa wisata, minimal yang dekat dekat aja dulu. Berarti poinnya apa nih?, ya poinnya adalah duit. Lanjut ke pertanyaan kedua, duit itu bagaimana carinya?. Dikesempatan kali ini saya mau kenalkan prinsip cari duitnya aja. Urusan mau cari di bidang apa itu terserah. Prinsip itu dinamakan cari duit itu di hati sedang nyaman. Kenapa kal...