Langsung ke konten utama

Perpustakaan Bank Indonesia - Surabaya

Yang ada di Surabaya, dan yang suka baca, mungkin salah satunya suka perpustakaan ini. Ya Perpustakaan Bank Indonesia namanya.

Ini kedua kalinya saya ke sini. Pertama sama beberapa teman kuliah S2. Kedua sendirian, karena terdorong rasa penasaran kondisi ruangannya bagaimana. Ternyata masih bagus, tapi sama kayak dulu. Sepi. Ternyata saya salah hari. Hari Sabtu tidak buka.

Tidak apalah. Yang penting sudah baca beberapa halaman dari buku Kitab Tanah Jawi. 

Hari kerjanya cuma Senin sd. Jumat. Buka jam 9 pagi, tutup jam 4 sore. 

Pengen sih berdiam lama di perpustakaan. Entah apa yang dibaca, kalau bisa sambil tidur jika sudah waktu siang menjelang. Ingin juga berkunjung ke perpustakaan yang buka 24 jam. Petugasnya pun setiap shift ada. Shift 1 dari jam 00.00 sd 08.00. Shift 2 dari jam 08.00 sd 16.00. Shift 3 dari jam 16.00 sd 24.00. Saya belum tahu keinginan saya itu apakah ada tersedia. Jika ada Alhamdulillah. Tapi biasanya perpustakaan yang ada di beberapa negara besar. Tentunya negara tersebut konsisten bangun kecerdasan rakyatnya. Ya awal kecerdasan rakyat itu bangkit salah satunya dari membaca. Itu faktor kecil saja.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wajah Yang Menentukan

Mungkin enak kali ya jalan jalan ke luar negeri gitu?. Bisa jadi bikin hati enak. Tapi ada yang tanya pasti nih. Kan perlu duit? Kalau gak punya duit gemana? Ya pastinya kalo lagi ngebet banget ya mustinya nabung. Jawaban klasik sih itu. Ya gemana lagi ya kan. Kalau duit banyak, ya bisa aja langsung jalan-jalan. Tapi saya yakin, ada momentumnya nanti bosan juga. Pasti itu. Manusia fitrahnya ya bosan. Kalo destinasi wisatanya gak sesuai ekspektasi ya jatuhnya benci. Bakal gak mau ke tempat itu lagi. Tapi ya dipikir-pikir, mending ada duit. Daripada enggak ada. Kalau ada duit, hari itu juga apa yang diinginkan bisa jadi selangkah lebih maju, pasti bisa wisata, minimal yang dekat dekat aja dulu. Berarti poinnya apa nih?, ya poinnya adalah duit. Lanjut ke pertanyaan kedua, duit itu bagaimana carinya?. Dikesempatan kali ini saya mau kenalkan prinsip cari duitnya aja. Urusan mau cari di bidang apa itu terserah. Prinsip itu dinamakan cari duit itu di hati sedang nyaman. Kenapa kal...

Mengubah Sistem Cacat

Demokrasi yang sehat tidak lahir dari transaksi, melainkan dari partisipasi yang sadar dan bermartabat. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa biaya pemilu yang tinggi telah mendorong praktik politik transaksional, di mana suara rakyat dipertukarkan dengan janji atau materi, bukan visi dan integritas. Ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan krisis nilai. Untuk mengatasi ini, kita perlu solusi yang menyentuh tiga lapisan: *1. Reformasi Sistem Pemilu* - ๐Ÿ’ฐ _Pembatasan dan transparansi dana kampanye_: Negara perlu memperketat regulasi pembiayaan politik, termasuk pelaporan dana kampanye secara real-time dan audit publik. - ๐Ÿงพ _Subsidi kampanye berbasis kualitas_: Calon yang lolos seleksi berbasis rekam jejak dan visi bisa mendapat dukungan logistik dari negara, bukan dari sponsor pribadi yang berpotensi menuntut balas jasa. *2. Pendidikan Politik Rakyat* - ๐Ÿ“š _Literasi demokrasi sejak dini_: Kurikulum sekolah harus mengajarkan nilai-nilai demokrasi, bukan sekadar prosedurnya. - ๐Ÿ“ฃ...

Potongan Kisah di Tiap Momen

Saya suka melihat foto yang saya ambil. Foto segelas kopi gula aren ini saya ambil waktu di cafe. Cafenya di area kantor. Yang punya bisnis adalah cucu perusahaan dimana saya bekerja. Jadi asyik saja gitu. Ingin ngopi yang seperti orang ya tinggal ke bawah saja. Membayar pakai uang digital di aplikasi. Aplikasinya milik perusahaan juga. Perusahaan saya ngasih uang makan per bulan di aplikasi itu. Jadi jika mau makan, tinggal buka aplikasi dan bayar, sama seperti QRIS. Metode bayar digital dari Indonesia. Jika saldo Rp 50.000, harga kopi Rp 20.000, saldo tersisa Rp 30.000. sangat sederhana. Sesi kepenulisan ini saya menikmati, posisinya di mall, sedang menunggu waktu tonton film. Film yang saya sukai rilisnya dan sequelnya. Mission Impossible tahun 2025. Bisa saja bagi saya nonton di web yang tidak berbayar alias gratis. Tapi kelamaan. Jadi bayar nonton di bioskop tidak masalah. Toh uang ada. Uang dari nabung maksudnya. Uang yang lebihan dan bisa dianggap sebagai uang letih atas bekerja...