Langsung ke konten utama

Pernah Dapat Uang Dari Ini

 

Bagi sebagian orang memang mencari uang itu mudah. Mungkin yang berpendapat seperti itu didukung oleh pemikiran yang sudah bagus, lingkungan nya mendukung bahwa mencari uang itu sungguh mudah, pergaulan mereka kebanyakan dari kalangan orang yang terbukti mencari uang itu sangatlah mudah dan masih banyak faktor lainnya.

Untuk saat ini (11 Mei 2022), saya menganggap mencari uang itu lumayan saja, maksudnya adalah perlu usaha yang lumayan pas. Disebabkan lingkungan keluarga saya diantaranya adalah, bapak seorang guru, ibu seorang pengusaha dan adik sebagai pegawai swasta. Tidak ada yang dekat dengan saya-yang profesinya sebagai pengusaha sukses. Jadi wajar saya anggap mencari uang itu perlu usaha yang lumayan pas.

Yang pernah saya alami-untuk mendapatkan uang itu didapat dari beberapa sektor tindakan. Yang pernah saya lakukan adalah:

  1. Belajar yang rajin, ikut lomba, lalu menang lomba, akhirnya dapat duit pembinaan;
  2. Bekerja di perusahaan dengan cara sesuai standar operasi prosedur, akhir bulan dapat duit, akhir tahun dapat bonusan (tergantung kebijakan masing-masing perusahaan), dapat jaminan transportasi, jaminan kesehatan, jaminan uang pensiun, jaminan uang masa hari tua;
  3. Bekerja sebagai freelancer, perah waktu kuliah saya sembari memberikan privat khusus mengajar anak SD, akhir bulan dapat duit, duitnya saya belanjakan sepeda;
  4. Membantu vendor ketika melakukan pekerjaannya, di akhir acara dapat duit;
  5. Aktif bertanya atau mengikuti sebuah acara, jika panitianya terkesan dengan ke aktifan kita, mungkin dapat duit, minimal dapat nasi kotak sebagai bingkisan;
  6. Pernah saya jual buku, dapat duitnya lumayan besar, minimal balik modal;
  7. Ajukan beasiswa ketika kuliah, dapat duitnya juga lumayan;
  8. Silaturahmi ketika masih kecil dan belum berpenghasilan, dapat angpao jelas dari keluarga
Itulah teman-teman, rejeki itu tidak disangka dan tidak melulu berupa uang. Kesehatan pun adalah rejeki juga.

Coba bagikan ya pengalaman kalian mendapatkan uang itu lewat jalur tindakan apa-apa saja. Mari berbagi di kolom komentar. Terima kasih.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potongan Kisah di Tiap Momen

Saya suka melihat foto yang saya ambil. Foto segelas kopi gula aren ini saya ambil waktu di cafe. Cafenya di area kantor. Yang punya bisnis adalah cucu perusahaan dimana saya bekerja. Jadi asyik saja gitu. Ingin ngopi yang seperti orang ya tinggal ke bawah saja. Membayar pakai uang digital di aplikasi. Aplikasinya milik perusahaan juga. Perusahaan saya ngasih uang makan per bulan di aplikasi itu. Jadi jika mau makan, tinggal buka aplikasi dan bayar, sama seperti QRIS. Metode bayar digital dari Indonesia. Jika saldo Rp 50.000, harga kopi Rp 20.000, saldo tersisa Rp 30.000. sangat sederhana. Sesi kepenulisan ini saya menikmati, posisinya di mall, sedang menunggu waktu tonton film. Film yang saya sukai rilisnya dan sequelnya. Mission Impossible tahun 2025. Bisa saja bagi saya nonton di web yang tidak berbayar alias gratis. Tapi kelamaan. Jadi bayar nonton di bioskop tidak masalah. Toh uang ada. Uang dari nabung maksudnya. Uang yang lebihan dan bisa dianggap sebagai uang letih atas bekerja...

Mengubah Sistem Cacat

Demokrasi yang sehat tidak lahir dari transaksi, melainkan dari partisipasi yang sadar dan bermartabat. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa biaya pemilu yang tinggi telah mendorong praktik politik transaksional, di mana suara rakyat dipertukarkan dengan janji atau materi, bukan visi dan integritas. Ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan krisis nilai. Untuk mengatasi ini, kita perlu solusi yang menyentuh tiga lapisan: *1. Reformasi Sistem Pemilu* - ๐Ÿ’ฐ _Pembatasan dan transparansi dana kampanye_: Negara perlu memperketat regulasi pembiayaan politik, termasuk pelaporan dana kampanye secara real-time dan audit publik. - ๐Ÿงพ _Subsidi kampanye berbasis kualitas_: Calon yang lolos seleksi berbasis rekam jejak dan visi bisa mendapat dukungan logistik dari negara, bukan dari sponsor pribadi yang berpotensi menuntut balas jasa. *2. Pendidikan Politik Rakyat* - ๐Ÿ“š _Literasi demokrasi sejak dini_: Kurikulum sekolah harus mengajarkan nilai-nilai demokrasi, bukan sekadar prosedurnya. - ๐Ÿ“ฃ...

Jangan Beli Crypto & Bitcoin, Tidak Ada Underlayingnya

Sabtu pagi ini memang cerah. Banyak orang berduit mengisi waktunya dengan rehat sejenak. Menikmati masa hidup dengen gelimang harta di sebuah instrumen investasi bernama saham. Namun di suatu waktu di masa depan, akan terjadi dimana dunia tidak memakai lagi yang bernama digital. Semua serba manual. Maka alat tukar yang masih bisa bertahan adalah emas.  Beruntung yang memiliki tabungan Dinar dan dirham. Kedua alat itu sah untuk alat tukar, sehingga beli barang apa saja bisa. Namun jika aset berupa digital, ini sangat susah. Jika terjadi sebuah trouble/masalah, maka aset akan hilang. Maka cara orang dulu dan ditambah dengan sabda Nabi sebagai dasar adalah sah untuk selalu diikuti.  Digital itu ada kaitannya dengan handphone, jika handphone hilang, kita lupa ingatan maka semua aset akan hilang, inilah yang dinamakan risiko besar. Jika beli emas, maka saudara kita tahu, istri tahu anak tahu, jika nauzubillah kita hilang ingatan, maka saudara bisa membantu untuk mengingatkan, menar...